Latest Post

Ahsanu 'Amala


Ahsanu ‘amala? Al-Mulk (67) : 2
Dibawah ini hanya penjelasan ringkas mengenai hal tersebut, semoga bermanfaat.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا... [الملك : 2]
http://istimroor-belajar.blogspot.com/
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya...”

Fudail bin ‘Iyadl mengatakan bahwa ahsanu ‘amala adalah amalan yang paling ikhlas dan paling benar. (benar di sini maksudnya adalah sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam).
 Lalu beliau menjelaskan kondisi – kondisi amalan yang dilakukan :
1.     Apabila sebuah amalan itu dilakukan dengan ikhlas akan tetapi tidak benar (berlandaskan ilmu/tidak sesuai tuntunan) maka amalan itu tidak akan diterima.
2.     Apabila amalan itu dilakukan berlandaskan ilmu dan sesuai tuntuna akan tetapi tidak ikhlas maka amalan itu juga tidak diterima.

Kemudian beliau menutup penjelasannya dengan membacakan akhir surat al-Kahfi :

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا [الكهف : 110]
“.................. barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

Oleh karena itu bagi seorang muslim tentunya harus memperhatikan dua hal tersebut di atas pertama adalah Keikhlasan dan yang kedua adalah ilmu dalam amalan-amalannya. Apabila ia ingin melakukan suatu ibadah yang terbesit di dalam hatinya ingin riya’, pamer dan tujuan-tujuan menyimpang lainnya maka ia harus segera meluruskan niatnya kemudian barulah melaksakan amalan tersebut. Apabila ia akan melakukan dan ia tidak mengetahui apakah amalan tersebut ada dasarnya dalam al-Qur’an ataupun hadis maka sebaiknya ia tinggalkan agar tidak masuk kepada hal-hal yang dilarang. Wallahu a’lam.
 

Doa dan Dzikir Pagi Petang


Dzikir Pagi dan Petang
http://istimroor-belajar.blogspot.com/Dibawah ini beberapa dzikir pagi dan petang yang ada dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada kita untuk kita amalkan :
1.      Membaca ayat Kursy
2.      Membaca surah al-Ikhlas 3x
3.      Membaca surah al-Falaq 3x
4.      Membaca surah al-Naas 3x
5.      Membaca

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ 100X/10X

“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Baginyalah kerajaan dan segala pujian. Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu”. ( Dibaca 100X ataupun 10X setiap harinya). [H.R. al-Bukhari dan Muslim]
6.      Membaca
سُبْحَانَ اللهِ وَ الْحَمْدُ لِلهِ وَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ   100X
“Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya dan tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Allah Maha Besar” ( Dibaca 100X) [HR. Muslim]
7.      Membaca
سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحَمْدِهِ100X
“Maha Suci Allah, aku memuji-Nya” (Dibaca 100X) [HR. Muslim]
8.      Membaca
بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِيْ الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ   3X
“Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu yang dibumi dan di langit tidak akan berbahaya. Dialah Yang Maha Mengetahui” (Dibaca 3X)
Barang siapa yang membacanya 3X tidak ada sesuatu yang membahayakan baginya.
[HR. Abu Dawud dan al-Tirmidzi]
9.      Membaca
حَسْبِيَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَ هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ 7X
“Allahlah yang mencukupi (segala kebutuhanku), tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan Yang Menguasai Arsy yang Agung” (Dibaca 7X)
Barang siapa yang membacanya 7X maka Allah mencukupi apa yang diinginkannya dari urusan dunia dan akherat. [HR. Ibnu Sina dan Abu Dawud]
10.   Membaca

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَ بِالْإِسْلَامِ دِيْنًا وَ بِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا3X
“Aku rela Allah Tuhanku, Islam agamaku, Muhammad Nabiku” (Dibaca 3X) [HR. al-Tirmidzi]

Penulis hanya menulis 10 dzikir saja hal ini bukan dimaksudkan untuk membatasi jumlah dzikir yang dapat diamalkan, ataupun membatasi batas minimal ataupun maksimal dalam dzikir pagi dan petang. Akan tetapi dimaksudkan untuk memudahkan dalam penghafalan dan pengamalannya. Adapun kelengkapannya dapat dilihat langsung di Hisnul Muslim karangan Said bin Ali bin Wahf al-Qohthon, dimana di dalam buku tersebut ada sekitar 19 dzikir. Wallahu a’lam.
 

Adab-adab Terhadap Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam


Adab Terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam I.
http://istimroor-belajar.blogspot.com/

Landasan :
1.   Allah Ta’ala telah mewajibkan setiap muslim untuk beradab terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam Al-Qur’an. Hal ini ditunjukkan dengan jelas dalam ayat-ayat Al-Qur’an, seperti dalam surah al-Hujurat (49): 1-5, al-Nur (24): 62.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (1) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (2) إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ (3) إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (4) وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّى تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ  [الحجرات : 1 - 5]
1.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
2.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara nabi, dan janganlah kamu Berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.
3.  Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka Itulah orang-orang yang Telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.
4.  Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.
5.  Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka Sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَى أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّى يَسْتَأْذِنُوهُ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ  [النور : 62]
62.  Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka Itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Maka apabila mereka meminta izin kepadamu Karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

2.   Allah Ta’ala sungguh mewajibkan setiap mukmin untuk mentaati beliau dan juga mencintainya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ  [محمد : 33]
33.  Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.(Muhammad (47) : 33)

3.   Allah Ta’ala teah menjadikan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai hakim diantara manusia dan mewajibkan setiap muslim menjadikan beliau sebagai hakim.          
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [النساء : 65]
65.  Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.( Al-Nisa’ (4) : 65)

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا  [النساء : 105]

105.  Sesungguhnya kami Telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang Telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), Karena (membela) orang-orang yang khianat,

4.   Allah Ta’ala mewajibkan setiap mukmin untuk mencintainya melalui lisan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :
و الذي نفسي بيده لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده و والده و الناس أجمعين
رواه البخاري
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Tidak beriman salah seorang diantara kalian sehingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, bapak ibunya bahkan seluruh manusia.” (H.R. Al-Bukhȃri)

5.   Keistimewaan yang telah Allah berikan kepada beliau berupa kebagusan akhlak dan keutammaan-keutamaan lainnya yang menjadikan beliau sebagai sebaik-baik makhluk.[1]
Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas sudah sewajibnyalah bagi orang muslim untuk beradab kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan merealisasikannya dalam kehidupan dan mengejak setiap muslim untuk menjalankannya sebagai bentuk ibadah dengan menjalankan perintah-perintah Allah Ta’ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya berkaitan dengan bagaimana seseorang harus bertingkah laku terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.



[1] Jabir al-Jazairi, Minhȃj al-Muslim ( Beirut : Dȃr al-Bayȃn li ‘Ulȗm al-Qur’an, 2006), h. 66-68
 

Dzikir Sesudah Shalat Fardlu



Dzikir Sesudah Shalat :


Dzikir setelah shalat الذكر بعد الصلاة : 

أَسْتَغْفِرُ اللهَ        3x

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَ مِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَ الْإِكْرَامِ [رواه مسلم]

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدِّ [رواه مسلم]

سُبْحَانَ الله  33x 
الْحَمْدُ لِله33x 
اللهُ أَكْبَرُ33x 

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ [رواه مسلم]

قَرَءَ سُوْرَةَ
 الْإِخْلَاصِ وَ الْفَلَقِ وَ النَّاسِ فِيْ كُلِّ صَلَاةٍ  1x إِلَّا صَلَاةَ الْمَغْرِبِ وَ الصُّبْحِ  3x[رواه أبو داود و الترمذي و النسائي]

قرء أيَةَ الْكُرْسِيْ بَعْدَ كُلِّ صَلَاةِ الْوَاجِبِ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَ يُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ 3x

بعد المغرب و الصبح [رواه الترمذي و أحمد]

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ لَا حَوْلَ وَ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ لَهُ النِّعْمَةُ وَ لَهُ الْفَضْلُ وَ لَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَ لَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ [))[[][[]ٍ][

رواه  مسلم








 

Syarat-syarat Hadis Mutawatir

Hadis Mutawatir II

Bismillah wal hamdu lillah,
Syarat – syarat Hadis Mutawatir :
Berdasarkan pengertian hadis mutawatir yang telah penulis sampaikan sebelumnya, dapat disimpulkan  syarat-syarat  sebuah hadis dikatakan mutawatir. Adapun syarat – syaratnya adalah sebagai berikut :
1.      Pemberitaan yang disampaikan oleh para perawi  harus berdasarkan tanggapan panca indera. Maksudnya berita yang disampaikan itu didapatkan langsung dari pendengaran ataupun penglihatan perawi itu sendiri.
2.      Jumlah perawinya harus mencapai suatu ketentuan yang tidak memungkinkan mereka bersepakat bohong.
3.      Adanya keseimbangan jumlah antara para perawi dalam thabaqah (lapisan) pertama dengan jumlah perawi dalam thabaqah berikutnya.[1]


شروط المتواتر :
-        أن يرويه عدد كثير
-        أن يوجد هذا العدد في جميع طبقات السند
-        أن تحيل اعادة تواطؤهم و توافقهم على الكذب
-        أن يكون مستند خبرهم الحس (سمعت و رأيت)[2]


Terdapat perbedaan jumlah syarat dari kedua sumber yang penulis sampaikan pada kesempatan ini, tetapi sebenarnya keduanya sama karena pada sumber pertama syarat yang pertama dan kedua pada sumber kedua dijadikan satu.
Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.



[1] Ahmad Izzan, Ulumul Hadis ( Bandung : Tafakur, 2011), h. 146
[2] ‘Abd al-Karim, min athyabi al-minah fi al-‘ilmi al-Mushtalah ( Arab Saudi : al-Jami’ah al-Islamiyah bi al-Madinah, 1425 H), h. 8


 

Macam-macam Tanwin


Macam-macam Tanwin
1. Tanwin Tamkin
Tanwin Tamki adalah tanwin yang teredapat pada isim-isim yang mu’rab seperti lafaz زيد dan juga رجل . Terkecualikaaan dari hal ini tanwin yang ada pada jamak muannats salim seperti مسلمات dikecualikan pula tanwin yang terdapat pada lafadz جوارٍ dan juga غواشٍ.

2. Tanwin Tankir
http://istimroor-belajar.blogspot.com/Yaitu tanwin yang terdapat pada isim-isim yang bersifat mabni untuk membedakan isim yang ma’rifat ddan isim yang nakirah. Contoh :

مررت بسبويه و سبويه اخر

“Aku bertemu dengan Sibawaih dan Sibawaih yang lain”

3. Tanwin Muqabalah
Yaitu tanwin yang terdapat pada jamak muannats salim seperti lafadz مسلمات . Tanwin ini berkedudukan sebagai pembanding huruf nun yang terdapat pada jamak mudzakkar salim seperti مسلمون

4. Tanwin Iwadh
Tanwin ini terbagi menjadi tiga bagian :
a. Tanwin yang terdapat pada huruf idz (إذ) yang berfungsi sebagai pengganti jumlah sesudahnya yang tidak disebutkan. Contohnya firman Allah Ta’ala :
و أمتم حيئذ تنظرون 
Padahal kalian ketika itu melihat

Maksudnya, padahal kalian melihat ketika roh sampai di tenggorokan. Jumlah kalimat  بلغت الروح الحلقوم  tidak disebutkan, tetapi diganti oleh tanwin.
Tanwin jenis ini juga digunakan untuk menggantikan isim yang tidak disebutkan yang terdapat pada كل contohكل قائم (semuanya berdiri). Maksud yang dimaksud adalah كل إنسان قائم lafaz insanun tidak disebutkan tetapi diganti oleh tanwin.
Selain kedua hal tersebut tanwin jenis ini  juga berfungsi sebagai pengganti huruf yang tidak disebutkan seperti pada lafaz جوار(perahu-perahu), غواش (peristiwa yang dasyat) dsm, baik dalam keadaan rafa’ atupun jar. Contoh dalam keadaa rafa’ seperti هؤلاء جوارٍ Semuanya itu adalah perahu, dan dalam keadaan jar seperti مررت بجوار   pada kedua contoh ini huruf ya dibuang kemudian diganti oleh tanwin.

b. Tanwin tarannum, yaitu tanwiin yang terdapat pada qafiyah (akhir bait syair) yang bunyinya diperpanjang dengan huruf illah seperti yang terdapat pada ungkapan seorang penyair 

أقلى اللوم عاذل و العتابن       و قولي إن أصبت لقد أصابن 

Tinggalkanlah celaan dan makianmu itu hai perempuan pencelaku, dan katakanlah olehmu bila aku berbuat benar, sungguh aku telah berbuat benar.

Diletakkan tanwin sebagai pengganti alif (huruf illah) semata-mata tarannum (keindahan bunyi huruf pada akhir bait syair). Contoh lainnya adalah ungkapan penyair berikut :

أزف الترحل غير أن ركابنا         لما تزل برحالنا وكأن قدن 
Telah dekat waktu berangkat, hanya saja kendaraan kami belum berangkat, seakan-akan waktu perpisahan telah terjadi.

c. Tanwin ghali. Keberadaan tanwin ghali ini telah dibuktikan oleh Imam Akhfasy, yaitu tanwin yang berada di akhir qafiyah yang muqayyadah seperti ucapan seorang penyair

 و قائم الأعماق خاوي المختقن
Berapa banyak pedalaman yang luas tak ada yang menempuhnya

 

Menghafal, Teknik

Sabtu, Ba’da shalat maghrib, 19 DH 1433 H / 03 Nov 2012
Menuliskan apa yang disampaikan “anak” ku dalam menghafal,,,
Dalam menghafal kita harus mengetahui potensi diri kita,,
apabila kita lebih dapat mudah menghafal dengan mendengar maka kita mendengarkan bacaan yang tentunya baik dan benar untuk kemudian kita hafal,,,,
apabila potensi kita dapat mudah menghafal dengan membaca, maka kita membaca yang akan kita hafal,,,,
dan apabila potensi yang kita miliki adalah dapat mudah menghafal dengan menulis maka kita tulis apa yang akan kita hafal,,,,,
so, kalau digabungkan semuanya tentunya akan lebih baik, karena kita dapat mengetahui bacaan, tulisan dan bagaimana bacaan yang benar dari yang kita kan hafal,,,,,,, 
kemudian “anak”ku yang lainnya masih tentang menghafal,,,,
lanjutan dari mengetahui potensi tersebut,,,, lebih ke teknis menghafal,,,,,

Dalam menghafal, kita harus bertahap, ayat per ayat,, satu ayat dihafal sempurna, baru kemudian menghafal ayat selanjutnya, dan kemudian digabungkan ayat yang telah dihafal tersebut dan di ulang-ulang sampai lancar,,,,,,,,

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Istimroor - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger