Latest Post

Adab Makan dan Minum

Bismillah wal hamdu lillah, Adab Makan dan Minum, pada kesempatan ini penulis ingin membawakan adab-adab dalam kita memenuhi hak tubuh kita sebagai manusia, yaitu makan
makan minum
dan minum. Tiada hari berlalu kecuali kita tidak lepas dari kegiatan ini (makan dan minum) karena tubuh kita membutuhkan asupan-asupan yang diproses dari makanan dan minuman yang telah kita masukkan ke dalam tubuh. Makanan dan minuman yang kita dapatkan tentunya merupakan rizqi dari Allah Subhnahu wa ta’ala. Oleh karena itu seyogyanya kita yang mendapatkan rizqi tersebut menjalankan adab-adab yang telah diperintahkan Allah melalui apa yang telah diperintahkan, mmaupun yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sauri tauladan kita semua. Adapun adab-adab tersebut diantaranya sebagai berikut[1] :

1.    Berupaya untuk mencari makanan yang halal. Allah Subhanahu wata'ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”. (Al-Baqarah: 172). Yang baik disini artinya adalah yang halal.
2.    Hendaklah makan dan minum yang kamu lakukan diniatkan agar bisa dapat beribadah kepada Allah, agar kamu mendapat pahala dari makan dan minummu itu.
3.    Hendaknya mencuci tangan sebelum makan jika tangan kamu kotor, dan begitu juga setelah makan untuk menghilangkan bekas makanan yang ada di tanganmu.
4.    Hendaklah kamu puas dan rela dengan makanan dan minuman yang ada, dan jangan sekali-kali mencelanya. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu di dalam haditsnya menuturkan: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Apabila suka sesuatu ia makan dan jika tidak, maka ia tinggalkan”. (Muttafaq’alaih).
5.    Hendaknya jangan makan sambil bersandar atau dalam keadaan menyungkur. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda; “Aku tidak makan sedangkan aku menyandar”. (HR. al-Bukhari). Dan di dalam haditsnya, Ibnu Umar Radhiallaahu anhu menuturkan: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melarang dua tempat makan, yaitu duduk di meja tempat minum khamar dan makan sambil menyungkur”. (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani).
6.    Tidak makan dan minum dengan menggunakan bejana terbuat dari emas dan perak. Di dalam hadits Hudzaifah dinyatakan di antaranya bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “... dan janganlah kamu minum dengan menggunakan bejana terbuat dari emas dan perak, dan jangan pula kamu makan dengan piring yang terbuat darinya, karena keduanya untuk mereka (orang kafir) di dunia dan untuk kita di akhirat kelak”. (Muttafaq’alaih).
7.    Hendaknya memulai makanan dan minuman dengan membaca Bismillah dan diakhiri dengan Alhamdulillah. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang diantara kamu makan, hendaklah menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta'ala dan jika lupa menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta'ala pada awalnya maka hendaknya mengatakan : Bismillahi awwalihi wa akhirihi”. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani). Adapun meng-akhirinya dengan Hamdalah, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah sangat meridhai seorang hamba yang apabila telah makan suatu makanan ia memuji-Nya dan apabila minum minuman ia pun memuji-Nya”. (HR. Muslim).
8.    Hendaknya makan dengan tangan kanan dan dimulai dari yang ada di depanmu. Rasulllah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda Kepada Umar bin Salamah: “Wahai anak, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang di depanmu. (Muttafaq’alaih).
9.    Disunnatkan makan dengan tiga jari dan menjilati jari-jari itu sesudahnya. Diriwayatkan dari Ka`ab bin Malik dari ayahnya, ia menuturkan: “Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam makan dengan tiga jari dan ia menjilatinya sebelum mengelapnya”. (HR. Muslim).
10. Disunnatkan mengambil makanan yang terjatuh dan membuang bagian yang kotor darinya lalu memakannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila suapan makan seorang kamu jatuh hendaklah ia mengambilnya dan membuang bagian yang kotor, lalu makanlah ia dan jangan membiarkannya untuk syetan”. (HR. Muslim).
11. Tidak meniup makan yang masih panas atau bernafas di saat minum. Hadits Ibnu Abbas menuturkan “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang bernafas pada bejana minuman atau meniupnya”. (HR. At-Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).
12. Tidak berlebih-lebihan di dalam makan dan minum. Karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Tiada tempat yang yang lebih buruk yang dipenuhi oleh seseorang daripada perutnya, cukuplah bagi seseorang beberapa suap saja untuk menegakkan tulang punggungnya; jikapun terpaksa, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minu-mannya dan sepertiga lagi untuk bernafas”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).
13. Hendaknya pemilik makanan (tuan rumah) tidak melihat ke muka orang-orang yang sedang makan, namun seharusnya ia menundukkan pandangan matanya, karena hal tersebut dapat menyakiti perasaan mereka dan membuat mereka menjadi malu.
14. Hendaknya kamu tidak memulai makan atau minum sedangkan di dalam majlis ada orang yang lebih berhak memulai, baik kerena ia lebih tua atau mempunyai kedudukan, karena hal tersebut bertentangan dengan etika.
15. Jangan sekali-kali kamu melakukan perbuatan yang orang lain bisa merasa jijik, seperti mengirapkan tangan di bejana, atau kamu mendekatkan kepalamu kepada tempat makanan di saat makan, atau berbicara dengan nada-nada yang mengandung makna kotor dan menjijik-kan.
16. Jangan minum langsung dari bibir bejana, berdasarkan hadits Ibnu Abbas beliau berkata, “Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang minum dari bibir bejana wadah air.” (HR. Al Bukhari)
17. Disunnatkan minum sambil duduk, kecuali jika udzur, karena di dalam hadits Anas disebutkan “Bahwa sesungguhnya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang minum sambil berdiri”. (HR. Muslim).




[1] Departemen Ilmiah Darul Wathan, Etika Seorang Muslim (Jakarta : Darul Haq, 2001)h.73
 

Doa Masuk Rumah dan Doa Keluar Rumah

Bismillah wal hamdu lillah.
doa masuk rumah
Sobat semua yang semoga dirahmati Allah. Pada kesempatan ini saya akan sharing kepada teman-teman semua mengenai do’a masuk dan keluar rumah.

Rumah yang semoga masih terasa nyaman bagi kita, rumah yang masih kita katakana “baity jannaty”, tempat kita melepas lelah dan menghimpun kembali semangat untuk terus berjuang dan berusaha dalam menuju ridla Sang Pencipta, Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Rumah tempat kita menghimpun cita-cita mulia penerus generasi dakwah pencerah dunia.

Tapi kadang kita lupa, kadang kita malah mengajak setan masuk dan bermalam di dalamnya, karena kita lupa untuk berdzikir dan berdo’a saat memasuki rumah kita. Bahkan kadang kita lupa untuk mendoakan orang yang berada di dalamnya dengan mengucapkan salam untuk penghuninya.

Oleh karena itu pada kesempatan ini kita saling mengingatkan untuk mengingat kembali dan berusaha untuk membiasakan diri berdzikir ketika memasuki dan keluar dari rumah kita dengan dzikir-dzikir yang telah diajarkan oleh Manusia pilihan penuntun umat manusia Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berikut ini :

Do’a Masuk Rumah[1] :

بِسْمِ اللهِ وَلَجْنَا وَ بِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا وَ عَلَى اللهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا

 “Dengan menyebut nama Allah kami masuk, dengan menyebut nama Allah kami keluar dan kepada Allah Rabb kami, kami bertawakkal”
Kemudian mengucapkan salam pada keluarganya. (HR. Abu Dawud).

Do’a Keluar Rumah[2] :

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari tersesat atau disesatkan, dari terpeleset pada dosa atau dipelesetkan, dari menzalimi orang lain atau dizalimi, dari berbuat odoh atau dibodohi manusia” (HR. Ahlu Sunnah, lihat pula ‘Shahihut-Tirmidzi (3/152, dan Shahih Ibnu Majah (2/336)).

Atau membaca :

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ لَا حَوْلَ وَ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

“Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakkal kepada-Nya. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya” (HR. Abu Dawud (4/325), dan al-Tirmidzi (5/490)).

Semoga kita bisa mengamalkannya. Amin. N.




[1] Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani, Doa Dzikir dan Wirid Sehari-hari Menurut al-Qur’an dan al-Sunah, h.42-43. (Surakarta : Insan Kamil, 1429H)
[2] Ibid
 

Shalat Jama'ah

Bismillah wal-hamdu lillah.
Allah Ta’ala berfirman :
shalat jama'ahوَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
“Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku”.  
(Q.S. Al-Baqarah (2):43)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:.. وَلَقَدْ هَمَمْتُ اَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيُصَلِّىَ بِالنَّاسِ ثُمَّ اَنْطَلِقُ مَعِى بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ اِلىَ قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُوْنَ الصَّلاَةَ فَاُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوْتَهُمْ (اَخْرَجَ السِّتَّةَ عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ)
Rasulullah S.A.W. bersabda: “..Mau aku rasanya menyuruh orang qamat untuk shalat lalu aku menyuruh seorang menjadi Imam bersama-sama shalat dengan orang banyak. Kemudian aku pergi bersama-sama dengan beberapa orang yang membawa beberapa ikat kayu bakar, untuk mendatangi mereka yang tidak mau turut shalat, untuk membakar rumah-rumah mereka.” (HR. Enam Ahli Hadits dari Abu Hurairah)
Ayat di atas menunjukkan perintah untuk menegakkan shalat secara berjama’ah yaitu pada kalimat Ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’. Selanjutnya hal tersebut ditunjukkkan pada hadits setelahnya yang memberikan pengetahuan pada kita betapa pentingnya shalat secara berjama’ah sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat-sangat keras penentangannya terhadap orang yang tidak melaksanakan shalat jama’ah.
Untuk lebih memotivasi kita dalam melaksanakan shalat berjama’ah, marilah kita simak hadits berikut ini :
اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضَلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً ( رواه الْبُخَارِىُّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ)
Rasulullah S.A.W. bersabda: “Shalat Jama’ah itu melebihi keutamaan shalat sendirian, dengan duapuluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dari Ibnu ‘Umar )
Nah, minggiurkan bukan. Coba bila kita ditawari uang Antara 1000 rupiah dengan 27 ribu rupiah, tentunya kita akan memilih yang 27 ribu rupiah bukan. Lalu kenapa tidak dengan pahala shalat berjama’ah???
Selanjutnya marilah kita berusaha melaksanakan shalat berjama’ah. Mungkin bisa kita mulai dengan shalat subuh, karena saat itu waktu kita kosong tidak ada kegiatannya. Atau pun kita mulai saat waktu shalat maghrib setelah kita mandi sore, kemudian kita tambah lagi, tambah lagi sampai akhirnya kita bisa mengerjakan shalat 5 waktu dengan berjamaa’ah.
Next, pada beberapa kesempatan kadang kita menjumpai beberapa orang yang shalat berjama’ah tapi posisinya tidak tepat, untuk kesempatan ini sekalian saya bahas posisi imam dan makmum shalat berjama’ah :
1.      Makmum satu orang berdiri di sebelah kanan imam persis kecuali makmum perempuan dia berdiri dibelakang imam (bila imam laki-laki).
2.      Makmum dua orang atau lebih berdiri dibelakang imam.
3.      Makmun yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, maka posisi makmum laki-laki di depan makmum perempuan.
4.      Makmum yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dewasa dan anak-anak, maka posisi makmum laki-laki dewasa didepan diikiti belakangnya anak-anak baru makmum peremuan dewasa di belakang anak-anak.
5.      Makmum perempuan dengan imam perempuan membuat formasi shaf dengan menempatkan imam perempuan pada shaf pertama dan mengambil posisi ditengah-tengah makmum tidak maju ke depan seperti imam laki-laki.

Cukup ini dulu pembahasan saya mengenai shalat berjama’ah. Semoga bermanfaat. Mohon maaf bila ada salah. N





 

Untaian Hikmah

Sahabat semua yang berbahagia, beberapa hari yang lalu ku buka hp tua saya, nokia 2626, yang telah menemani saya bertahun-tahun yang lalu (walaupun belakangan ini agak terlantar hpnya karena baterainya yang sudah mulai tidak stabil). Ku lihat kembali catatan-catatan hikmah yang sempat kutulis dalam catatan. Untaian hikmah yang sempat ku simpan dari kiriman teman, sms-sms hadis, atau potongan-potongan hikmah yang ku dapatkan dari buku yang pernah saya baca.
Kata-kata hikmah

Oke, untuk mempersingkat cerita saya tentang sumber untaian hikmah ini, langsug saja saya persembahkan beberapa catatan hikmah berikut. semoga bermanfaat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Berbagai macam cobaan akan ditimpakan pada hati manusia secara bertubi laksana proses menganyam tikar. Hati manapun yang menyerapnya, maka akan munculah padanya noktah hitam. Sedangkan, hati manapun yang menolaknyamaka akan muncul padanya noktah putih. Sehingga hati itu menjadi salah satu dari 2 kemungkinan, hati yang jernih seperti shafa (sesuatu yang jernih), ia tidak akan terkena fitnah, sedangkan yang satu lagi adalah hati yang hitam keabu-abuan, tidak mampu mengenali yang ma’ruf dan tidak bisa menolak yang mungkar. (H.R. Muslim)

Berkata Imam Syafi’i :
Kebaikan ada pada 5 hal :
- kekayaan jiwa 
- menahan dari menyakiti orang lain
- mencari rizki yang halal
- taqwa
- tsiqah pada Allah

Keikhlasan butuh pada kejujuran dan kejujuran tidak butuh pada sesuatu. Karena hakikat keikhlasan adalah mengharapkan Allah dengan ketaatan, sedangkan kejujuran adalah mengharapkan Allah dengan ketaatan yang disertai khusyuk/hadirnya hati kepada-Nya. Oleh karena itu, setiap orang yang jujur adalah ikhlas dan tidak setiap orang yang iklash itu jujur. (Imam Nawawi)

Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Tidak boleh hasad kecuali pada dua perkara. Seseorang yang Allah berikan harta kemudian ia infakkan pada malam dan siang hari, dan seorang yang Dia berikan kitab ini (Hafal al-Qur’an) kemudian ia amalkan pada malam dan siang hari. Allahu a’lam.

Dari Abdullah bin Amr bi ‘Ash, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Saya telah melihat manusia, ikatan janjinya telah diabaikan, ringan amanahnya, serta mereka demikian dan beliau menyilangkan jari jemarinya. Maka tinggalah dirumahmu, tahan lisanmu, ambil yang engkau ketahui, tinggalkan yang engkau ingkari, atasmu dirimu saja, dan tinggalkan urusan orang umum. (H.R. Ahmad)

Dunia adalah jembatan akhirat, oleh karena itu seberangilah dan jangan jadikan tujuan,  tidaklah berakal orang yang membangun gedung-gedung di atas jembatan. (Yahya bin Mu’adz).

Menghabiskan malam untuk memilah-milah ilmu lebih aku nikmati daripada biduwanita yang berleher jenjang, goresan penaku di atas lembarannya lebih panas membakar dari pada penyakit dan kerinduan, tabuhan jemari wanita pada rebananya tidak lebih lezat bagiku dari pada pencarianku untuk menyingkirkan pasir dari kertas-kertasku, kecenderunganku yang mengantarkanku dalam memecahkan kesulitan hal-hal yang tersembunyi lebih menggiurkan dari pada tuntutan jiwa, dan aku bermalam dengan yang diharapkan dan bermalam dengan tidur, dan setelah itu yang tetap adalah pengetahuanku. (Imam Syafi’i)

Penyakit hati yang paling parah adalah syirik, dosa, kelalaian atau meremehkan cinta dan ridlo Allah, enggan bertawakal pada-Nya, jarang bersandar pada-Nya, lebih cenderung pada selain-Nya, kecewa menghadapi taqdir-Nya, atau ragu terhadap janji dan ancaman-Nya. (Ibnu Qayyim).

Mengutamakan Allah dan Rasul :
QS, al-Ahzab (33): 36
QS. al-Nur (24): 51

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Barang siapa mengutamakan cinta Allah di atas kecintaan manusia, maka Allah akan melindunginya dari beban gangguan manusia. (Riwayat al-Thabrani), paling kuat hubungan keimanan adalah cinta karena Allah dan benci karrena Allah. Al-Thabrani. Al-Baqarah (2) :  165

Fitrah Ilahiyah
Ali Imran (3) : 83

Pentingnya keimana :
QS. Al-Nur (24) : 39

Sumber kebahagiaan :
QS. Al-Fath (48) : 4
QS. Al-Baqarah (2) : 112
QS. Al-Isra’ (17) : 7
QS. Al-Maidah (5) : 6
QS. Al-Rahman (55) : 60

 

Sebab-sebab turunya ayat QS. Al-Anbiya


Pada kesempatan ini penulis hanya ingin membawakan sebab-sebab turunnya ayat dalam surah yang ke-21 dalam al-Qur’an, yaitu surah al-Anbiya, yang berada pada juz yang ke-17. Kalau pembaca memakai mushaf Utsmani yang standar maka akan bisa dijumpai pada halaman yang ke 322.
Sebab-sebab turunya ayatSurah ini memiliki 112 ayat, yang mana pada pembahasan asbabun nuzul ini hanya akan diungkapkan beberapa ayat saja yang terdapat asbabun nuzul di dalamnya. Adapun urgensi, fungsi dan hal-hal yang terkai dengan asbabun nuzul silakan lihat kembali tulisan penulis pada artikel sebelumnya (klik di sini).
Selanjutnya berikut ini ayat-ayat yang mengandung asbabun nuzul dalam surah al-Anbiya. Sebelumnya perlu penulis jelaskan sistematika penulisan artikel ini, pertama, penulis menuliskan nama surah dan no ayatnya, kemudian tarjamah ayat, baru riwayat yang menyatakan sebab turunya ayat beserta sumber periwayatan di akhir pembahaszn tiap ayat. Penulis tidak menambah penjelasan apapun terkait ayat tersebut selain penyebutan asbabun nuzul saja.
Sebab turunya ayat-ayat dalam surah al-Anbiya

QS. Al-Anbiya (21) : 6
Tidak ada (penduduk) suatu negeri pun beriman yang Kami telah membiaakannya sebelum mereka; maka apakah mereka akan beriman?

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa penduduk Mekah berkata kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Sekiranya apa yag engkau katakana itu benar dan engkau menghendaki agar kami beriman kapadamu, coba jadikan Gunung Shafa ini emas”. Datanglah Jibril berkata : “Sekiranya engkau mau pastilah apa yang dikehendaki kaummu itu akan terwujud. Namun sekiranya mereka tidak beriman setelah mereka dikabulkan permintaannya, mereka dengan serta merta akan disiksa tanpa diberi tempo lagi. Atau engkau sendiri menangguhkan dalam mengabulkan permintaan mereka dengan harapan agar mereka beriman”. Ayat ini (QS. Al-Anbiya (21) : 6) turun sebagai peringatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa kaum-kaum sebelumnya juga pernah meminta mukjizat, akan tetapi setelah dikabulkan, mereka tetap kufur.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah)

QS. Al-Anbiya (21) : 34
“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal.”

Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi tahu hari wafatnya, beliau bersabda: “ Ya Rabbi! Siapa yang akan membela umatku ini?” Turunlah ayat ini, yang menegaskan bahwa setiap makhluk tidak ada yang dapat hidup kekal di dunia.
(Diriwayatkan oleh Ibnu al-Mundzir yang bersumbeer dari Ibnu Juraij).

QS. Al-Anbiya (21) : 36
“Dan apabila orang-orang kafir itu melihat kamu, mereka hanya membuat kamu menjadi olok-olok. (Mereka mengatakan) : “Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu?”, padahal mereka adalah orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah.”

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat di depan Abu Jahl dan Abu Sufyan yang sedang bercakap-cakap. Ketika Abu Jahl melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia tertawa dan berkata kepada Abu Sufyan : “Inilah Nabi Bani Abdi al-Manaf.” Marahlah Abu Sufyan dan berkata : “Apakah kamu akan memungkiri jika dari Bani Abdi al-Manaf ada seorang Nabi?” Percakapan ini terdengar oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berbalik kepada Abu Jahl dengan pandangan yang tajam sambil memberikan peringatan: “Aku tidak melihat engkau berhenti mengganggu, sehingga engkau mendapat siksaan sebelum waktu yang seharusnya.” Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi)

QS. Al-Anbiya (21) : 98, 101
“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.”(98)
“Bahwasannya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.”(101)

Dalam suatu riwaya dikemukakan, ketika turun ayat 98 dari surah al-Anbiya, bertanyalah Ibnu Zuba’ Radliyallahu ‘anhu : “Apakah penyembah matahari, bulan, malaikat, dan penyembah ‘Uzair seluruhnya di dalam neraka beserta tuhan-tuhan kami?” maka turunlah ayat ke 101, sebagai penegasan bahwa orang-orang yang menepati ketetapan-ketetapan Allah akan dijauhkan dari api neraka. Dan turun pula ayat ke 57-58 surah al-Zukhruf.
(Diriyatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas).

Sekian yang dapat penulis sampaikan, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.

Diambil dari, K.H.Q. Shaleh,dkk. Asbabun Nuzul, Latar Belakang Historis Turunya Ayat-Ayat al-Qur’an.Edisi 2. Cet ke-10. 2009. Bandung : CV Penerbit Diponegoro
 

Asbabun Nuzul QS. Ibrahim (14)


Bismillah, wa al-Hamdu Lillah
asbabun nuzul QS. IbrahimSaudara semua yang semoga dirahmati Allah. Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan asbabun nuzul surah pada juz ke-13 surah yang ke-14, dalam al-Qur’an, QS. Ibrahim, yang memiliki jumlah ayat 52.
Dari ke 52 dua ayat ini ada 2 ayat yang didapati asbabun nuzulnya. Kedua ayat tersebut adalah sebagai berikut :

أَلَمْ تَرَ إِلَى الّذِيْنَ بَدَّلُوْا نِعْمَةَ الله كُفْرًا وَ أَحَلُّوْا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ(28)
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? (Ibrahim(14) : 28)
جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا وَ بِئْسَ الْقَرَارُ(29)
Yaitu neraka jahannam, mereka masuk ke dalamnya, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (Ibrahim(14):29)

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat ini (QS. Ibrahim(14):28-29) turun berkenaan dengan tokoh-tokoh Quraish yang terbunuh dalam peperangan Badr. Ayat ini menegaskan bahwa pengorbanan mereka demi kekufuran, telah membinasakan dirinya, kaumnya dan negaranya sendiri. Sementara itu, tempat mereka di akhirat adalah neraka jahannam.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Atha bin Yasar

 

ETIKA BERTETANGGA

Etika Bertetangga
Hidup bertetangga
Istimroor-belajar.blogspot.com. Tetangga adalah orang yang terdekat bagi sebuah keluarga, merekalah pertama kali yang akan mengulurkan tangan kepada kita saat kita mengalami kesusahan, dan begitu pula seharusnya kita. Mereka juga termasuk ruang pembentukan anak-anak kita, kenyamanan hidup akan diperoleh bila interaksi yang baik dapat terjalin di antara keluarga kita dan para tetangga. Dengan bersatunya lingkungan antar keluarga dan tujuan membentuk lingkungan yang nyaman dan baik tentunya akan membentuk pribadi-pribadi yang kuat dan berdiri dalam kebaikan, sedangkan apabila terbentuk sebaliknya maka akan timbul kerusuhan dan kerusakan yang akan menghancurkan tiap generasi bangsa.
Oleh karena itu perlulah kiranya kita memperhatikan etika dalam bertetangga yang perlu dijaga oleh setiap anggota keluarga dalam bermasyarakat :

Menghormati tetangga dan berprilaku baik terhadap mereka.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, sebagaimana di dalam hadits Abu Hurairah Radhiallaahu ‘anhu : “....Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya”. Dan di dalam riwayat lain disebutkan: “hendaklah ia berperilaku baik terhadap tetangganya”. (Muttafaq ‘alaih).

Bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita, tidak membuat mereka tertutup dari sinar mata hari atau udara, dan kita tidak boleh melampaui batasnya, apakah merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut menyakiti perasaannya.

Hendaknya kita memelihara hak-haknya di saat mereka tidak di rumah. Kita jaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan orang jahil; dan hendaknya kita ulurkan tangan bantuan dan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan, serta memalingkan mata kita dari wanita mereka dan merahasiakan aib mereka.

Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu mereka, seperti suara radio atau TV, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutup jalan bagi mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman! Nabi ditanya: Siapa, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: “Adalah orang yang tetangganya tidak merasa tentram karena perbuatan-nya”. (Muttafaq’alaih).

Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan seharusnya kita ajak mereka berbuat yang ma`ruf dan mencegah yang munkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka.

Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Dzarr: “Wahai Abu Dzarr, apabila kamu memasak sayur (daging kuah), maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu”. (HR. Muslim).

Hendaknya kita turut bersuka cita di dalam kebahagiaan mereka dan berduka cita di dalam duka mereka; kita jenguk bila ia sakit, kita tanyakan apabila ia tidak ada, bersikap baik bila menjumpainya; dan hendaknya kita undang untuk datang ke rumah. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati mereka jinak dan sayang kepada kita.

Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan/kekeliruan mereka dan jangan pula bahagia bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memandang kekeliruan dan kealpaan mereka.

Hendaknya kita sabar atas prilaku kurang baik mereka terhadap kita. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah.... –Disebutkan di antaranya- :Seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah oleh kematian atau keberangkatannya”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Adab-adab  ini diambil dari buku Etika Seorang Muslim, Departemen Ilmiah Darul Wathan, Jakarta : Dar al-Haq, 2005, Tarjamah dari Adab al-Muslim fi al-Yaum wa al-Lailah oleh : Musthafa Aini, Lc


 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Istimroor - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger